Tutur Jatmiko *)

Abstrak Banyak siswa diberbagai Sekolah jenjang terlibat dalam berbagai kasus. Membolos pada saat jam sekolah merupakan sikap indisipliner menjadi hal biasa. Fenomena ini menggambarkan bahwa siswa perlu mendapatkan perhatian lebih dari orang tua dan sekolah. Siswa SD adalah siswa yang berusia antara 6 sampai 12 tahun. Anak-anak menguasai keterampilan dasar membaca, menulis, dan berhitung. Mereka mulai memasuki dunia yang lebih luas dengan budayanya. Perkembangan setiap individu harus sejalan dengan perkembangan aspek-aspek lain yaitu, fisik, psikis, serta emosional, moral, dan sosial. Outbound adalah kegiatan yang dilakukan di alam bebas, dengan permainan. Di dalamnya terdapat berbagai filosofi, simulasi kehidupan, olah pikir, studi kasus, bermain peran, dan praktik langsung dengan pendekatan pengalaman (experiential learning), dan penuh dengan kegembiraan. Keberhasilan dalam proses belajar mengajar di sekolah, sangat dipengaruhi kepercayaan diri, kemampuan mengontrol emosi, dan kemampuan berinteraksi dengan orang lain, berkaitan erat dengan Intelegensi Emosi (Emotional Intelegence). Pengembangan kepribadian dalam kegiatan outbond, di samping melalui permainan juga dapat melalui petualangan (adventure) dan kegiatan penuh tantangan Kata kunci : Pengembangan kepribadian, outbond
1. Pendahuluan
Belakangan ini banyak siswa SD, SLTP, maupun SLTA terlibat dalam berbagai kasus. Tidak mengikuti pelajaran pada saat jam sekolah merupakan sikap indisipliner menjadi hal yang biasa. Bahkan kasus siswa membolos menjadi ramai dibicarakan saat terjadi razia pelajar oleh petugas Satpol PP Kota Padang yang menyebabkan beberapa siswa meninggal dunia dan terluka pada saat melarikan diri dari kejaran petugas. Beberapa kasus kriminal melibatkan para pelajar mulai dari pornografi, pornoaksi, narkoba, penganiayaan, hingga pembunuhan. Sebagai contoh kasus yang menjadi berita aktual di media cetak dan elektronik adalah keterlibatan siswa SLTA bahkan SLTP dalam geng motor di Jawa Barat. Hal ini menunjukkan bahwa siswa mengaktualisasikan dirinya tanpa mendapat perhatian secara serius dari orang tua maupun pihak sekolah. Siswa SD juga banyak terlibat dalam kasus kriminal, contohnya: kasus Raju di Medan yang menganiaya teman sebayanya hingga diproses ke pengadilan. Ada juga yang lebih mengenaskan lagi, di Kediri misalnya, siswa yang disembunyikan identitasnya tega membunuh teman bermainnya hanya karena masalah sepele. Yang paling menyedihkan dari kasus ini, pelaku tidak menyesali perbuatannya serta dapat mengubah alibinya saat di interogasi polisi.
*) Tutur Jatmiko adalah dosen Fakultas Ilmu Keolahragaan UNESA
2
Hal ini menggambarkan bahwa para siswa perlu mendapatkan perhatian lebih dari orang tua maupun sekolah. Para siswa memerlukan suatu kegiatan yang positif untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya dalam segala bidang. Orang tua seharusnya mengajarkan pada anak menjadi pribadi yang mandiri, disiplin, dan jujur. Akan tetapi, mayoritas orang tua cenderung memanjakan anaknya. Sekolah sebagai rumah kedua bagi siswa hendaknya menjadi jembatan bagi proses perkembangan kepribadian siswa. Guru juga berperan besar dalam proses perkembangan kepribadian siswa, karena siswa SD cenderung meniru apa yang dilihat dan didengarnya. Untuk itu komunikasi antara orang tua, guru, dan siswa sangat dibutuhkan dalam memilih kegiatan yang bertujuan mengembangkan kepribadian mereka.
2. Perkembangan Siswa SD
Menurut Santrok dan Yussen (dalam Sumantri, 2007:1.8) menyatakan bahwa perkembangan adalah pola gerakan atau perubahan yang dimulai pada saat terjadi pembuahan yang berlangsung terus selama siklus kehidupan. Perkembangan merupakan hasil dari proses biologis, kognitif, dan sosial. Ketiga proses tersebut mempengaruhi perkembangan anak. Proses biologis merupakan perubahan-perubahan fisik individu. Proses kognitif meliputi perubahan-perubahan yang terjadi pada individu mengenai pemikiran, kecerdasan, dan bahasa. Proses sosial meliputi perubahan-perubahan yang terjadi dalam hubungan individu dengan orang lain, emosi, dan kepribadian. Ketiga proses tersebut memenuhi keterkaitan yang sangat erat dan banyak dialami oleh siswa SD. Memahami perkembangan terdapat pembagian waktu-waktu yang dialami manusia yang disebut fase, yaitu: fase pranatal, fase bayi, fase kanak-kanak awal, fase kanak-kanak tengah dan akhir, dan fase remaja. (Ibid : 1.9). Siswa SD adalah siswa yang berada pada fase kanak-kanak tengah dan akhir yang berlangsung sejak kira-kira 6 sampai 12 tahun. Anak-anak menguasai keterampilan-keterampilan dasar membaca, menulis, dan berhitung. Secara formal mereka mulai memasuki dunia yang lebih luas dengan budayanya. Pencapaian prestasi menjadi arah perhatian pada dunia anak dan pengendalian diri sendiri bertambah pula. Siswa SD menurut Robert J. Havighurs memiliki tugas perkembangan yang muncul pada suatu periode tertentu dalam kehidupan individu yang merupakan keberhasilan yang dapat memberikan kebahagiaan serta memberi jalan bagi tugas-tugas berikutnya. Adapun tugas-tugas perkembangan bagi siswa SD adalah :
(1) Mempelajari keterampilan fisik yang diperlukan untuk permainan tertentu.
(2) Membentuk sikap tertentu terhadap diri sendiri sebagai organisme yang sedang tumbuh.
(3) Belajar bergaul secara rukun dengan teman sebaya.
(4) Mempelajari peranan yang sesuai dengan jenis kelamin.
(5) Membina keterampilan dasar dalam membaca, menulis, dan berhitung.
(6) Mengembangkan konsep-konsep yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.
(7) Membentuk kata hati, moralitas, dan nilai-nilai.
(8) Memperoleh kebebasan diri.
3
(9) Mengembangkan sikap-sikap terhadap kelompok-kelompok dan lembaga sosial
(Ibid : 1.16-1.17) Tugas perkembangan setiap individu harus sejalan dengan perkembangan aspek-aspek lain yaitu, fisik, psikis, serta emosional, moral, dan sosial. Tugas perkembangan ini penting bagi pendidik. Pertama, membantu memperjelas tujuan yang akan dicapai sekolah. Kedua, sebagai pedoman waktu untuk melaksanakan usaha-usaha pendidikan. 3. Kegiatan Outbond
a. Sejarah Outbond
Kegiatan Outbond merupakan proses mencari pengalaman melalui alam terbuka. Kegiatan ini sudah dimulai sejak zaman Yunani kuno. Sedangkan dalam bentuk pendidikan formal, dimulai sejak 1821, ditandai dengan didirikannya Round Hill School, di Inggris. Tetapi secara sistematik kegiatan ini baru dipopulerkan di Inggris tahun 1941. Lembaga pendidikan outbond dibangun oleh seorang pendidik berkebangsaan Jerman bernama Kurt Hahn bekerjasama dengan pedagang Inggris bernama Lewrence Holt. Kedua orang ini membangun pendidikan berdasarkan petualangan (adventured based education). Dalam kegiatan pendidikan tersebut, petualngan dilakukan dengan menggunakan kapal layar kecil disertai tim penyelamat untuk mendidik pemuda pada zaman perang. Pendidikan bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran di kalangan kaum muda bahwa tindakan mereka membawa konsekuensi dan menumbuhkan rasa kebersamaan dan kasih sayang pada orang lain. Kesuksesan lembaga tersebut dalam mendidik para pemuda, membuat lembaga pendidikan sejenis dibangun di berbagai negara. Setelah era Perang Dunia II, lembaga serupa dibangun di Inggris, Eropa, Afrika, Asia dan Australia. Di Indonesia banyak lembaga pendidikan seperti ini didirikan dengan berbagai level profesionalisme dan kelengkapan program dan peralatan. Menurut Jamaludin Ancok (2003: 3) penggunaan metode ini sudah merambah ke dalam dunia pendidikan. Banyak lembaga pendidikan yang menerapkan metode ini dalam proses pengajaran, dan pengggunaannya dinilai memberikan konstribusi positif terhadap kesuksesan belajar. Pendekatan ini digunakan untuk meningkatkan konsep diri anak-anak yang nakal, anak pecandu nakoba, dan kesulitan dalam hubungan sosial. Metode yang sama digunakan juga untuk memperkuat hubungan keluarga dalam family therapy.
Menurut desertasi, Afiatin (dalam Ancok, 2003:3) dikatakan bahwa outbond dapat digunakan untuk penangkalan penggunaan obat terlarang (narkoba). Afiatin menemukan bahwa penggunaan metode outbond dapat meningkatkan ketahanan terhadap godaan untuk tidak menggunakan narkoba. Selain itu, dilaporkan pula kegiatan di dalam outbond training dapat meningkatkan perasaan hidup bermasyarakat (sense of community) di antara para peserta
4
perlatihan. Metode outbond telah pula digunakan untuk membangun modal sosial. Modal sosial adalah “jaringan kerjasama di antara warga masyarakat yang memfasilitasi pencari solusi dari permasalahan yang dihadapi mereka”.
b. Pengertian Outbond
Outbond itu merupakan singkatan dari Out of Boundaries, yang bila diterjemahkan bebas menjadi menembus batas. Ya menembus batas, karena dalam outbond kita diharuskan dapat menembus dinding pemisah antarsuku, ras agama, dan golongan sehingga didapat keakraban yang kompak. Outbound adalah kegiatan yang dilakukan di alam bebas, dengan permainan. Di dalamnya terdapat berbagai filosofi, simulasi kehidupan, olah pikir, studi kasus, bermain peran, dan praktik langsung dengan pendekatan melalui pengalaman (experiential learning), dan penuh dengan kegembiraan (Ganet, 2006: 1). Outbond adalah suatu campuran perlatihan fisik dan mental bagi sekumpulan orang yang bertujuan untuk menyamakan pola pikir dan pola kerja sehingga diharapkan dapat meningkatkan kinerja. Ada pula yang menafsirkan outbond secara perkata, yaitu out yang artinya keluar dan bond yang artinya ikatan. Jadi keluar menuju alam bebas dan saling punya keterikatan, baik dengan alam maupun rekan satu tim. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa outbond adalah suatu kegiatan yang (biasanya) dilakukan di alam terbuka serta dilakukan dengan berkelompok dan bertujuan untuk menjalin team work serta membangun cinta kepada alam. Sebagai sebuah kegiatan, outbond memiliki prinsip dam metode sendiri. Adapun prinsip outbound atau kegiatan alam bebas sebagai berikut:
(1) alam digunakan sebagai sumber belajar ;
(2) didalamnya terdapat simulasi kehidupan dalam skala mikro ;
(3) memperoleh pengalaman sebelum apa yang dilakukan itu namanya apa ;
(4) mendapatkan kegembiraan dan kesenangan ;
(5) mendapatkan tantangan untuk mengaktualisasikan diri ;
(6) mencoba sesuatu yang baru dengan bereksperimen ;
(7) berintergrasi dengan kelompok ;
(8) peserta sebagai subjek bukan objek ;
(9) pendidik sebagai fasilitator/pemandu kegiatan ;
(10) kegiatan ini terpola atau terstruktur dengan baik.
Perlatihan dengan media outdoor memberikan beberapa nilai tambah, metode ini terbukti efektif. Karena berbeda dengan pelatihan indoor yang konvensional dan hanya menyentuh aspek kognisi saja. Dasar pendekatan untuk perlatihan outbound adalah outdoor activities. Perlatihan dengan media outdoor memberikan beberapa nilai tambah, metode ini terbukti efektif . Karena berbeda dengan perlatihan indoor yang konvensional dan hanya menyentuh aspek kognisi saja. Melihat keuntungan yang diharapkan, outbond merupakan suatu usaha yang sangat bermanfaat
5
karena bertujuan membina kerjasama, namun pengolahan latihan fisik dan mental yang akan dilaksanakan tentunya harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan, usia, jabatan peserta, dan tujuan perlatihan. Yang terpenting untuk memulai outbond sebelum memasuki tahap pertama, yaitu tahap pembentukan pengalaman, diperlukan penelitian terdahulu tentang kebutuhan perlatihan. Sesudah diadakan penelitian pendahuluan diharapkan materi perlatihan (kurikulum) dapat disusun dengan baik dan permainan yang dipilih dapat disesuaikan dengan tujuan dari outbond itu sendiri. Karenanya keadaan akan menjadi sangat mengganggu dan merugikan, apabila kegiatan yang disusun justru bertentangan dengan kebutuhan. Beberapa manfaat outbond sebagai berikut :
(1) untuk pengembangan team building, dengan syarat peserta yang ikut bekerja dalam sebuah tim atau bagian yang sama ;
(2) pengembangan kepemimpinan, tidak semua level dari siswa, lembaga pendidikan atau perusahaan tersebut disertakan dalam kegiatan outbond ;
(3) pengembangan budaya organisasi ;
(4) pengelolaan perubahan ;
(5) perencanaan strategic ; dan
(6) pengembangan diri.
(www. directrelief.com) Adapun paradigma dalam kegiatan outbound tentunya sangat cocok untuk diterapkan pada berbagai kelompok usia. Paradigma pembelajaran yang diterapkan adalah :
(1) berpusat pada peserta ;
(2) mengembangkan kreativitas peserta ;
(3) kondisi menyenangkan ;
(4) mengembangkan beragam kemampuan ;
(5) menyediakan pengalaman belajar yang beragam ;
(6) belajar melalui berbuat konstekstual ;
(7) pendidikan adalah proses memanusiawikan manusia kembali ;
(8) meliputi tiga kelompok belajar yaitu ; kesadaran magis, kesadaran naif, kesadaran kritis.
( Suyatno, 2006 : 2 ) Sebagaimana model-model pembelajaran yang telah ada, kegiatan outbond juga memiliki teknik dan aktivitas yang menarik untuk dilakukan. Teknik yang dapat dilakukan dalam OMT sebagai berikut :
(1) Permainan
(2) Simulasi
(3) Olah Pikir
(4) Bermain Peran
(5) Studi Kasus
(6) Praktik Langsung
Aktifitas dapat dilakukan dalam penerapan teknik outbond adalah :
(1) Pemecah Kebekuan
(2) Penguatan Tim]
6
(3) Komunikasi
(4) Presentasi
(5) Penyemangat
(6) Pembelajaran
(7) Persepsi
(8) Evaluasi
(9) Manajemen Diri
4. Pengembangan Kepribadian Melalui Aktifitas Outbond Berhasil dalam proses belajar mengajar di sekolah, sangat dipengaruhi kepercayaan diri, kemampuan mengontrol emosi, dan kemampuan berinteraksi dengan orang lain. Hal tersebut berkaitan erat dengan Intelegensi Emosi (Emotional Intelegence). Para pakar banyak berpendapat bahwa sukses dalam karir banyak ditentukan oleh kecerdasan emosional dibandingkan kecerdasan intelektual. Olah karena itu upaya mengembangkan kecerdasan emosional mendapat perhatian yang semakin besar. Dalam Ancok (2003 : 35-36) dijelaskan bahwa ada beberapa ciri yang menandakan seseorang memiliki kecerdasan emosional yang baik, antara lain sebagai berikut :
(1) Mentalitas berkelimpahan (abudance metality). Sifat kepribadian seseorang yang suka membagi-bagikan apa yang dimiliki kepada orang lain, dengan begitu dia akam merasa semakin kaya. Sifat ini adalah kebalikan dari mentalitas pelit (scarcity mentality).
(2) Pikiran positif kepada orang lain. Dia akan melihat orang lain sebagai bagia dari kebahagiaan hidupmya sendiri.
(3) Kemampuan berempati. Sifat yang dimiliki oleh orang yang bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain.
(4) Komunikasi transformasional. Orang yang selalu memilih kata-kata yang enak untuk didengar orang lain.
(5) Berorientasi sama-sama puas. Orang yang dalam interaksinyadengan orang lain ingin membuat orang lain merasa gembira dan ia juga gembira.
(6) Sifat melayani. Orang yang senang jika melihat orang lain senang dan susah jika melihat orang lain susah.
(7) Kebiasaan apresiatif. Suka memberikan apresiasi kepada orang lain.
Pengembangan kepribadian dalam kegiatan outbond dalam berbagai cara, disamping melalui permainan juga dapat melalui petualangan (adventure) dan kegiatan penuh tantangan. Dalam kegiatan outbond dituntut adanya inovasi. Banyak permainan yang menuntut orang untuk berfikir mencari penyelesaian masalah dengan pendekatan yang sama sekali baru. Pikiran yang bersifat terobosan inilah yang disebut inovasi.
7
Membahas tentang outbond setiap orang mempunyai definisi yang berbeda-beda. Agar bisa mudah dipahami, outbond diartikan sebagai sebuah kegiatan berupa permainan-permainan dengan berbagai filosofi dibalik permainan tersebut. Apabila kita melihat permainan-permainan yang dimainkan dalam permainan outbond banyak yang diangkat dari permainan-permainan tradisional, bahkan permainan anak-anak. Oleh karena itu banyak permainan yang terkesan sederhana, tapi yang perlu diperhatikan adalah apa filosofi dari permainan, yang bisa diaplikasikan sesuai kebutuhan setelah kegiatan selesai dikerjakan. Dalam outbound terdapat permainan-permainan yang melibatkan aktivitas gerak, berfikir, emosional, dan sosial sebagai bagian pembentukan watak dan karakter seseorang. Permainan merupakan suatu hal yang sesuai untuk anak SD yang mempelajari ketrampilan fisik dengan permainan untuk memgembangkan konsep-konsep yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.. Permainan dalam outbound menurut Indriani (2006) dapat dikategorikan permainan berdasarkan jumlah pemain dapat dibagai dalam 3 kelompok yaitu :
(1) Permainan bersama ( Ice Breaking )
(2) Permaian Individu dan
(3) Permainan Kelompok.
Selain itu dalam kegiatan Outbound permainan juga dapat dikategorikan berdasarkan sifat permainannya yaitu :
(1) Fun Game.
(2) Low Impact
(3) High Impact.
Pelaksanaan game outbound, biasanya diberitahukan terlebih dahulu filosofi dan peraturan permainan, untuk kemudian dilaksanakan dan diberikan evaluasi setiap individu dalam permainan tersebut. Contoh permainan dalam outbound berdasarkan jumlah pemain dan sifatnya, bermainan bersama dan fun game :
(1) Kata Simon
(2) Say Bus
(3) Gempa Bumi
(4) Klabangman
(5) Missing Palace
(6) Dogy Voice.
Berikut ini contoh permainan yang diklasifikasikan berdasarkan jumlah pemain serta cara bermain dan makna dari permainan dalam kegiatan outbound, missal “Kata Simon” : Durasi waktu : 10 menit atau lebih (menyesuaikan) Tempat : ruangan atau lapangan Tujuan :
8
(a) Melatih konsentrasi (b) Memecah kebekuan suasana (Ice Breaking) Filosofi :
(a) Melatih konsentrasi
(b) Melatih secara cepat untuk mengambil keputusan
(c) Menjalankan perintah dengan tepat dan benar
(d) Melatih kejujuran
Peraturan bermain :
(a) Peserta duduk melingkar atau bebas
(b) Peserta wajib menjalankan perintah apabila diawali dengan ”Kata Simon”, begitu juga sebaliknya
(c) Apabila ada peserta melakukan kesalahan dan jujur atas kesalahannya maka harus mengambil jarak dari peserta lainnya serta tidak diperkenankan untuk ikut dalam permainan.
Selain permainan bersama dan fun game, jenis-jenis permainan ini memerlukan aktivitas fisik, keberanian, ketenangan, dan konsentrasi. Berikut beberapa contoh permainan individu dan bersifat High Impact adalah :
(1) Jembatan Birma
(2) Jaring Debarkasi
(3) Bamboo Crazy
(4) Spoting
(5) Flying Fox.
Selain permainan bersama dan individu bersifat fun game dan high impact, berikut permaianan kelompok dan low impact :
(1) Spidernet
(2) Step By Step
(3) Tali Ruwet
(4) A Frame
(5) Titanic
(6) Water Fall.
Berikut contoh permainan kelompok dan bersifat low impact : Filosofi :
(a) Membangun Team Work
(b) Membantu rekan dalam melakukan pekerjaan sulit
(c) Mencapai target secara bersama-sama
(d) Belajar mempercayai rekan kerja
(e) Membuat perencanaan kerja yang baik.
9
Cara bermain :
(a) Setiap peserta wajib melewati lubang sarang laba-laba, 1 lubang hanya boleh dilewati 1 orang.
(b) Untuk melewati lubang harus dibantu oleh anggota kelompok lain dengan cara digendong atau dibopong.
(c) Peserta yang membantu maupun yang melewati tidak boleh menyentuh tali.
Dari berbagai permainan tersebut, secara tidak langsung mengajak anak untuk melakukan aktivitas yang menuntun anak, menjadi pribadi yang mandiri. Permainan yang lucu dan menyenangkan membuat anak lebih tertarik untuk mengikutinya, tanpa disadari oleh anak mereka telah melakukan permainan yang merupakan suatu simulasi kehidupan yang memerlukan kemampuan olah pikir, menjalankan peran, dan belajar menyelesaikan permasalahan yang mereka hadapi dengan praktik secara langsung. Permainan yang mereka lakukan, juga mengajarkan bagaimana berinteraksi dengan teman sebaya. kerjasama, kejujuran, kemandirian, dan melatih anak mejadi lebih berani dan tenang dalam menghadapi suatu beban dan tantangan. 5. Simpulan Berdasarkan pembahasan tentang pengembangan kepribadian anak SD dengan aktivitas oubond di atas, dapat dilihat bagaimana kegiatan outbond mengajarkan kepada peserta belajar melalui permainan, hal ini sesuai dengan perkembangan siswa SD yang masih menyukai bermain. Permainan yang dilakukan oleh peserta outbond memerlukan kondisi fisik yang prima. Selain itu permainan dalam outbond memerlukan konsentrasi tinggi. Permainan ini mengajarkan sikap-sikap kepribadian yang baik meliputi ; disiplin, berani, jujur, mandiri, taat terhadap perintah, tanggap, kerjasama, berfikir rasional, berjiwa sosial, dan sebagainya. Outbond dalam permainan dilakukan dengan penuh kegembiraan, meskipun dalam suatu model permaianan peserta yang kalah atau melanggar aturan akan dihukum. Hukuman yang diberikan bukan berupa hukuman fisik, tetapi hukuman tersebut berupa hiburan yang menarik untuk rekan bermain atau kelompoknya, misalnya ; menyanyi, berjoget, bercerita lucu dan sebagainya. Jadi meskipun dalam kegiatan outbond hanya dilakukan dengan bermain dengan tingkat kesulitan yang berbeda, dapat ditarik kesimpulan bahwa kegiatan outbond merupakan salah satu kegiatan yang cocok untuk pengembangan kepribadian anak SD. Hal ini disebabkan oleh karakter anak SD yang menyukai permainan. Perlu diketahui bahwa Outbond merupakan sarana yang digunakan untuk melatih dan membentuk karakter dan kepribadian anak.
10
DAFTAR RUJUKAN Ancok, Jamaludin. 2003. Outbound Management Training. Jogyakarta : UII Press. Anggoro, Toha,dkk. 2007. Metode Penelitian. Universitas Terbuka. Jakarta : Depdiknas. Indriani, Puspita. 2006. Menyusun Dan Membuat Game Outbound. Bahan TOT Olahraga Dominan Sports Outbound Nasional. Mojokerto. FIK UNESA – Deputi Industri Olahraga Menegpora Nugroho, Yokhanan. 2006. Kinerja Teknis Perangkat SDM dalam Outbound. Bahan TOT Olahraga Dominan Sports Outbound Nasional. Mojokerto. HRD Indonesia. FIK UNESA – Deputi Industri Olahraga Menegpora Sumantri, M & Syaodih N. 2007. Perkembangan Peserta Didik. Universitas Terbuka. Jakarta :Depdiknas. Suyatno. 2006. Menyusun Program Outbound. Bahan TOT Olahraga Dominan Sports Outbound Nasional. Mojokerto : FIK UNESA – Deputi Industri Olahraga Menegpora Suyatno.2006. Metode Pembelajaran Outbound. Bahan TOT Olahraga Dominan Sports Outbound Nasional. Mojokerto : FIK UNESA – Deputi Industri Olahraga Menegpora Wardani, I.G.A.K,dkk. 2007. Teknik Menulis Karya Ilmiah. Universitas Terbuka. Jakarta : Depdiknas. Yuswanto,S.Pd. 2006. Menyusun Rencana Strategis dan Proposal Outbound Training. Bahan TOT Olahraga Dominan Sports Outbound Nasional. Mojokerto : FIK UNESA – Deputi Industri Olahraga Menegpora Yuswanto,S.Pd. 2006. Teknik Evaluasi Outbound Training. Bahan TOT Olahraga Dominan Sports Outbound Nasional. Mojokerto : FIK UNESA – Deputi Industri Olahraga Menegpora